Malam, Bansus dan Landak
Tarikan medan magnet yang sangat kuat mengenaiku saat akan berbelok pulang menuju kost’an. Aku seperti terkena hipnotis yang mengarahkanku tepat menuju kedai bansus di seberang jalan samping trotoar dekat air mancur. Setelah beberapa saat tanpa kesadaran, aku sudah berada di depan kedai itu kemudian duduk manis pada bangku kayu yang telah tersedia. “kang…bansusnya satu..” kataku pelan. Kuambil piring plastik warna merah jambu kemudian kusiram dengan sambal oncom encer. Diatas sebuah meja tersaji banyak aneka makanan diantaranya : bakwan, goreng tempe mendoan dan lontong (red: leupeut). Kuambil sebuah bakwan kemudian kusiram dengan sambal oncom yang viscositasnya sangat kecil sedikit pedas. Amboi mantap benar, sambil makan, diiringi petikan gitar dan nyanyian seniman jalanan yang rambutnya mowhak gaya punk mirip landak menyanyikan beberapa lagunya Bang Iwan yang berjudul “negeriku” dan “satu-satu”. Suasana saat itu seperti berada di sebuah kafe pingiran jalan di kota Milan, Italia. ...